Kamis, 14 Mei 2009

ulang tahun

Kemaren (tanggal 14 April 2009) ada anak kecil kelas tiga sekolah dasar ulang tahun. Kejadian dia (anak kecil itu) minta sama orang tuanya supaya ulang tahunnya dirayain termasuk peristiwa luar biasa, karena untuk pertama kalinya seumur hidupnya baru kali ini dia minta hal itu. Ada apa ya?

Kalau yang minta itu adalah anak yang memang terbiasa buat minta-minta, dalam artian semua keinginannya mau nggak mau harus dituruti, maka peristiwanya bakal jadi biasa-biasa aja.Tapi jadi luar biasa, karena anak ini bukan tipe anak seperti yang dijelasin tadi.Pasti.. buat anak ini -entah karena pertambahan usianyakah.. atau karena kali ini dia sudah jauh lebih besar untuk tahu makna ulang tahun.. atau karena pengaruh pergaulan.. atau mungkin karena terlalu sering nonton tv yang isinya melulu sinetron dan infotainment- merayakan ulang tahunnya kali ini bersama teman-teman sekolahnya adalah suatu hal yang sangat PENTING.
Ini kita ngomongin anak kecil ya, BUKAN orang dewasa seperti kita-kita ini..

Alhamdulillah, orang tua anak ini termasuk dalam kategori keluarga menengah ke atas. Permintaan untuk merayakan ulang tahunnya juga nggak aneh-aneh, hanya tipe ulang tahun standar dimana sejumlah teman datang ke rumah, ada acara ngasih kado mungkin.. lalu nyanyi-nyanyi mungkin.. tiup lilin juga mungkin.. itu doang. Jadi bukan yang bermewah-mewah. Meski sebenernya, kalau pun mau bermewah-mewah mereka SANGAT mampu kok..Sehingga.. menurut aku sih permintaannya masih tergolong wajar dan bolehlah dituruti, dengan tetap ada pemberian nasihat supaya ini nggak HARUS jadi acara WAJIB karena sesungguhnya ulang tahun kan nggak mesti selalu harus dirayakan.

So.. jadilah ulang tahunnya dirayakan. Yang diundang adalah temen-temen sekelasnya dan saudara-saudara dekat.Datanglah sore itu aku ke rumahnya, di kompleks perumahan yang tergolong elit, dengan penjagaan satpam 24 jam. Aku bawa hadiah, buku bacaan biar dia suka baca dan nggak melulu hanya main PS atau nonton TV aja kalau ada waktu luang di rumah.Sampai di depan rumahnya.. kok sepi ya? Terlihat beberapa orang saudara baru aja keluar dari rumah, udah pada mau pulang.. Oh.. rupanya aku datang sangat terlambat. Pestanya udah bubar. Tapi nggak apa-apa kan? Toh pastinya akan masih ada minimal sisa-sisa kue, snack, atau masakan Ibunya anak itu.Masuklah aku ke rumahnya. Lho.. kok rumahnya bersih banget ya? Nggak kelihatan ada bekas-bekas pesta atau kotor-kotor jejak kaki anak-anak.. Memang aku seberapa terlambat? Atau mungkin pestanya bukan di ruang tamu atau ruang tengah, melainkan di teras belakang yang memang lumayan luas.. Jadilah aku ke teras belakang.

Ternyata, nggak juga ada kelihatan bekas-bekas pesta kaya balon, atau hiasan kertas warna-warni, atau potongan kue, atau sisa makanan dan snack, atau.. yah, ada sisa nasi kuning + tempe dan ayam goreng sih.. tapi masa sih?
Nggak ada semua itu karena memang NGGAK ADA PESTA.. bingung deh.Usut punya usut, dari beberapa saudara yang juga hadir pada saat acara ulang tahun itu, acaranya hanya temen-temen anak itu datang, lalu mereka makan siang (karena memang acaranya diadakan setelah mereka pulang sekolah, jadi itung-itung makan siang aja gitu..), lalu bubar setelah sebelumnya teman-teman anak itu diberi bingkisan berupa snack khas jajanan anak-anak.Tanpa nyanyian selamat ulang tahun, tanpa kue ulang tahun sehingga otomatis nggak ada tiup lilin, atau tepuk tangan dan suara tawa riuh rendah penuh kebahagiaan. Kenappaaaaa..?

Hanya begitu aja juga nggak apa-apa sih.. suka-suka yang punya acara aja kan? Tapi, please deh.. masa ulang tahun anak cowok satu-satunya yang untuk pertama kalinya diminta seumur hidupnya cuma dirayain begitu aja sih? Alasannya kata orang tuanya, hidup hemat. Ya, oke.. setuju..

Asal kamu tahu aja ya, anak ini prestasi belajarnya oke, kelakuannya nggak aneh-aneh, jarang minta ini itu yang berlebihanlah. Jadi, ya..

Sebelum pulang, aku sempetin buat bener-bener ngeliatin gesture si anak. Sekedar memastikan bahwa dia memang menikmati harinya hari itu, nggak kecewa atau sedih atau muram dan sejenisnya. Alhamdulillah, dia terlihat senang.. Anak yang baik memang.

Mungkin aku aja yang terlalu banyak berharap..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar